Oleh:
Nuryani, SP.
Hama
padi yang utama di Provinsi Bengkulu diantaranya adalah tikus,
penggerek batang, walang sangit, wereng hijau, keong mas, wereng
cokelat, kepinding tanah, ulat grayak, hama putih, kepik hijau dan
burung.
1.
Tikus
Tikus Sawah |
Tikus
merupakan hama yang mempunyai mobilitas serta perkembangbiakan yang
tinggi. Tikus mulai bunting umur 2 bulan. Selama 1 tahun tikus dapat
beranak 4 kali, dan anak yang dilahirkan 8 – 12 ekor.
Gejala Tanaman Padi Sawah Terserang Tikus |
Gejala serangan tikus mudah dilihat yang
ditandai dengan pertumbuhannya tidak rata dan terlihat bolong di
tengah. Pengendalian dilakukan secara dini mulai dari fase pengolahan
tanah hingga panen.
Ada
empat spesies penggerek batang padi yaitu 1) penggerek batang padi
kuning (Scipophaga interculas), 2) penggerek batang padi putih
(scipopaga inotata), 3) penggerek batang padi bergaris (Chilo
sppressalis), 4) penggera
batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Stadia tanaman
yang rentan terhadap serangan hama ini mulai dari pembibitan sampai
pembentukan malai.
Ngengat
penggerak aktif meletakkan telur pada malam hari pukul 19.00 –
21.00 dengan periode peneluran 3-5 hari. Telur diletakkan pada
seluruh bagian daun (permukaan bawah, atas ujung serta pelepah daun).
Telur diletakkan secara berkelompok. Setela 6 hari telur menetas
menjadi larva. Waktu penetasan pada pagi dan siang hari. Setelah
menetas larva masuk ke dalam tanaman dengan cara menggerek tanaman
dan terus melangsungkan hidupnya didalam batang sampai dewasa.
Walang
sangit merusak mulai dari fase keluarnya malai sampai matang susu.
Gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh walang sangit dapat
menyebabkan beras berubah warna dan mengapur. Ambang ekonomi walang
sangit adala 2 ekor /m2 (16 rumpun) pada fase pembungaan.
Wereng
hijau merupakan hama penting karena dapat menyebarkan virus tungro
penyebab penyakit tungro. Fase pertumbuhan tanaman yang rentan
terhadap serangan wereng hijau adalah fase pembibitan sampai dengan
pembentukan malai.
Keong
mas atau siput murbei merupakan siput air tawar, berkembang biak
sangat cepat dan mampu merusak rumpun tanaman padi, seingga harus
disulam atau tanam ulang.
Wereng
coklat menyerang tanaman padi mulai dari persemeaian sampai waktu
panen. Nimpa dan imago mengisap cairan tanaman pada bagian pangkal
batang padi.
Kepinding
tanah menyerang mulai fase pembibitan sampai tanaman dewasa. Nimpa
dan imago mengisap cairan tanaman pada pelepah daun sehingga
menyebabkan kekerdilan, bahkan dapat mematikan tanaman.
Ulat
grayak dapat menyerang pada semua stadia pertumbuhan. Ngengat dewasa
aktif pada malam hari sedangkan pada siang hari ngengat beristirahat
di dasar tanaman. Larva menjadi lebih aktif pada musim penghujan
daripada musim kemarau.
Hama
putih menyerang pada fase vegetatif mulai dari persemaian sampai
dengan stadia anakan. Serangan ini bersifat setempat.
Kepik
(nimpa atau imago) menyerang bagian batang, daun dan bulir dengan
cara menghisap cairan tanaman.
Ganjur
merupakan hama penting mulai menyerang pada awal fase vegetatif
sampai selesai fase pembentukan anakan. Serangan hama ini meningkat
pada musim penghujan.
Burung
merupakan hama yang memakan bulir padi yang sedang menguning sehingga
menyebabkan terjadinya kehilangan hasil.
Langkah
pengendalian:
-
Melakukan pemantauan populasi tikus dan pembongkaran serata pembersihan sarang di tanggul irigasi, pematang, jalan sawah dikuti dengan penutupan liang tikus dan pemadatan pematang. Kegiatan ini dilakukan pada fase bera hingga pengolahan tanah.
-
Melakukan gropyokan secara masal oleh semua anggota kelompok tani.
-
Melakukan tanam serempak, pemasangan umpan beracun, pengomposan, serta penanaman padi sengan sistim legowo.
-
Melakukan fumigasi asap belerang pada lubang tikus, sanitasi lingkungan dengan membersihkan lingkungan sekitar areal.
5
(Lima) kunci sukses pengendalian hama tikus:
-
Serempak
-
meliputi areal yang luas
-
massal yaitu mengikutsertakan semua pihak
-
berulang kali sampai populasi tikus tidak menimbulkan kerugian.
-
Tepat waktu.
2.
Penggerek Batang
Gejala
serangan bila menyerang pada fase pembibitan maka tanaman akan kering
dan mati (sundep), sedangkan bila sudah terbentuk malai maka malai
akan hampa berwarna cokelat (beluk). Ambang ekonomi penggerek batang
adalah 10% rumpun terserng, 4 kelompok telur per rumpun (fase
bunting).
Langkah-langkah
pengendalian:
-
Rotasi tanaman padi dengan selain padi.
-
Penanaman varitas tahan seperti Gilirang, Maro, Intani
-
Penangkapan ngengat dengan lampu perangkap.
-
Pengumpulan kelompok telur.
-
Predator telur seperti belalang, predator ngengat seperti laba-laba, capung dan burung.
-
Penggunaan insektisida dengan bahan aktif karbuforan, bensultap, karbosulfan, amitras, fibronil. Merek dagang Bancol 50 WP, Furadan 3G, Darmafur 3G, Masal 5G.
3.
Walang Sangit
Langkah-langkah
pengendalian:
-
walang sangit ditangkap dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan.
-
Umpan walang sangit menggunakan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak atau kotoran ayam.
-
Parasit telur ooencyrtus malayensis Ferr yang dapat menyerang telur dari berbagai species walang sangit.
-
Gunakan insektisida, bila serangan sudah mencapai ambang ekonomi. Aplikasi insektisida sebaiknya pada pagi hari atau sore hari. Bahan aktif BPMC, Fibronil, metokarb, MIPC dan propoksur. Merk dagang Bassa 500 EC, Baycarb 500 EC, Dharmacin 50 WP.
4.
Wereng Hijau
Gejala
yang ditimbulkannya adalah kerdil, anakan kurang, daun berwarna
kuning sampai kuning orange. Ambang ekonomi adala 5 ekor wereng per
rumun. Jika tungro juga ditemukan 2 tanam bergejala tungro per 1000
rmpun pertanda tungro telah ditularkan dan dapat merusak tanaman.
Langkah-langkah
pengendalian:
-
Tanam varietas yang tahan seperti IR72 dan IR 66
-
Insektisida nabati dengan tanaman nimba dan sambiloto.
-
Penggunaan insektisida bila telah mencapai batas ambang ekonomi. Bahan aktif BPMC, buprofezin, etopenproks, karbofuran, MIPC dan tlametoksam. Merk dagang : Actara 25 WG, Applaud 10 WP, Bassa 50 EC.
5.
Keong Emas
Keong
mas melatakkan telur berkelompok menyerupai buah murbei pada
pematang, tumbuhan, ranting. Telur berwarna merah muda.
Waktu
kritis tanaman padi terhadap keong mas adalah 15 hari setelah tanam
pindah dan 30 hari tebar untuk tabela. Gejala meruskan tanaman dengan
cara memotong, memakan daun dan batang.
Langkah-langkah
pengendalian:
-
gunakan saringan berukurang 5 mesh di pintu air masuk.
-
Pungut dengan tangan telur keong mas dihancurkan
-
Buat caren/siring agar disaat dilakukan pengeringan keong mas akan menuju caren dan memudahkan dalam pengambilan.
-
Tanaman atraktan seperti daun pepaya, kulit nangka, kulit mangga, daun talas, dan daun singkong diletakkan pada sore hari, kemudian keong akan berkumpul pada bahan aktraktan tersebut sehingga mudah dipungut.
-
Secara biologi dengan predator kepiting dan musuh alami semut merah.
-
Pestisida dengan bahan aktif niclos amida atau molusca botani, Merk dagang Bayluside 250 EC.
6.
Wereng Coklat
Gejala
terlihat tanaman padi layu dan mengering mulai dari daun yang tua
kemudian meluas ke seluruh bagian tanaman sehingga akhirnya mati.
Jika serangan berat dapat menyebabkan matinya tanaman dalam satu
hamparan.
Langkah-langkah
pengendalian:
-
Penanaman varietas yang tahan (Widas, Ketonggo, Ciherang)
-
Pergiliran tanaman
-
Eradikasi
-
Ambang ekonomi 15 ekor per rumpun
-
Insektisida bahan aktif amitraz, fibronil, BPMC. Merek dagang Acatara 25 WG, Bassa 50 EC, Bancol 50 WP, Darmabas 500 EC.
7.
Kepinding Tanah
Gejala
kerusakan adalah di sekitar lubang bekas hisapan berubah warna
menjadi cokelat menyerupai gejala blas. Daun menjadi kuning
menggulung secara membujur. Ambang ekonomi adalah 5 ekor nimpa atau
kepinding dewasa per rumpun. Bila terdapat 10 ekor per rumpun dapat
mengakibatkan kehilangan hasil sampai 35%.
Langkah-langkah
pengendalian:
-
Kultur teknis dengan membersihkan gulma-gulma yang ada di sawah sehingga sinar matahari dapat masuk ke pangkal batang.
-
Meninggikan permukaan air sawah kemudian dicampuri serbuk gergaji dan minyak tanah (1/4 liter minyak tana untuk 100m2).
-
Menggunakan lampu perangkap kemudian dibakar atau dibunuh.
8.
Ulat Grayak
Gejala
serangan adalah larva memakan daun mulai dari tepi daun sampai hanya
meninggalkan tulang-tulang daun atau batang. Ulat grayak dapat
menyerang pada semua stadia pertumbuhan.
Langkah-langkah
pengendalian:
menggunakan
insektisida baan aktif BPMC atau karbofuran. Merk dagang, Dharmabas
500EC, Dharmafur 3 G.
9.
Hama Putih
Gejala
serangan adalah larva memakan jaringan mesofil dan dari permukaan
bawah daun dan meninggalkan efidermis permukaan atas sehingga tampak
garis-garis memanjang berwarna keputih-putihan pada daun. Gejala
tersebut terlihat daun-daun yang tidak berujung.
Langkah
pengendaliannya:
-
Pengendalian hayati dengan musuh alami seperti parasit famili braconidaey yang dapat memarasit larva. Kumbang Hydrophilidae dan Dytisodae yang memangsa larva serta laba-laba yang memakan imago.
-
Menggunaan insektisida bahan aktif fibronil atau karbofuran. Merk dangan Bancol 50 WP, Bassa 500 EC, Curater 3G.
10.
Kepik Hijau
Gejala
serangan kepik tidak nyata, karena kepik menusuk tidak terlalu dalam.
Seandainya terdapat kematian pada jaringan tanaman hal ini disebabkan
adanyak toksin dalam air ludahnya yang dikeluarkan pada waktu menusuk
jaringan tanaman.
Langkah-langkah
pengendalian:
menggunakan
parasit telur Telenomus sp dan Ooencyrtus malayensis.
11.
Ganjur (Orseolia oryzae)
Gejala
serangan terlihat puru-puru ganjur pada rumpun padi seperti daun
bawang merah. Mekanisme terbentuknya puru karena larva memakan secara
langsung atau terjadi rangsangan kimia menyebabkan seludang daun
tumbuh disekeliling larva menjadi suatu rongga oval dimana seminggu
kemudian akan berubah menjadi puru.
Langkah-langkah
pengendalian:
-
Kultur teknis dengan membersikan gulma, pemberian pupuk N jangan berlebihan.
-
Pengendalian hayati dengan predator Phytosilidae yang menyerang telur serta predator laba-laba yang menghisap imago.
-
Insektisida sistemik.
12.
Burung
Langkah-langka
pengendalian:
-
Menjaga burung pada jam 06.00 – 09.00 dan jam 14.00 – 18.00.
-
Gunakan jaring
-
Gunakan orang-orangan, menggoyang-goyangan dengan kaleng kosong dan tali untuk menakuti burung, tetapi tidak menurunkan populasi burung.
Disadur
dari :
Panduan
Teknologi Mendukung Program SL PTT Padi, BPTP Provinsi Bengkulu,
Tahun 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar