Tampilkan postingan dengan label Komponen Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komponen Teknologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 November 2017

Perbaikan Cara Tanam Padi dengan System Rice Intensification (SRI)

Jarak tanam (jajar legowo) bagian dari SRI
SRI (Siystem Rice Intensification) dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi metode budidaya padi yang cukup fenomenal. Karena ternyata memberikan hasil yang lebih banyak dibanding dengan sistem konvensional selama ini. Isyu yang lebih penting adalah sistim ini lebih ramah lingkungan dengan mengedepankan sistim pertanian organik. SRI mengajarkan untuk memahami padi sebagai tumbuhan rumput-rumputan yang butuh air akan tetapi bukan tanaman air. Sehingga pengaturan air menjadi hal yang sangat penting. Berikut ini tulisan yang diambil dari salah seorang tokoh penggerak SRI dari Madagaskar Dawn Bakelar bisa menjadikan sebagai rujukan untuk memahami metode SRI.


Apakah SRI itu?

            SRI mengembangkan praktek pengelolaan padi yang memperhatikan kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran, dibandingkan dengan teknik budidaya cara tradisional.  SRI dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Henri de Lauline, seorang pastor Jesuit yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana.  Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh dengan hasil yang positif.

Minggu, 15 Oktober 2017

KOMPONEN TEKNOLOGI SL-PTT PADI DESA SIDO URIP KECAMATAN ARGA MAKMUR BENGKULU UTARA



OLEH; NURYANI SP[1]. DAN TARJO[2]

I.        PENDAHULUAN
Komponen teknologi yang disusun dalam pelaksanaan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bersifat spesipic lokasi dan mempertimbangkan keragaman sumberdaya, iklim, jenis tanah, social-ekonomi-budaya masyarakat serta menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Pelaksanaan SL-PTT perlu terus disempurnakan dengan lebih memberdayakan Laboratorium Lapangan (LL) sebagai lokasi inovasi teknologi baru. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan adopsi teknologi spesipic lokasi.

Pendekatan SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar bagi petani untuk mengembangkan diri dalam pengambilan keputusan, sebagai tempat bertukar informasi dan pengalamn, memberikan pemahaman tentang berusaha tani dengan pengelolaan yang baik, tanpa meninggalkan pengolahan yang efisien, pembinaan manajemen kelompok sehingga kelompok tani menjadi lembaga yang benar-benar dirasakan manfaatnya bagi kolompok tani dan anggota.