Membuat Dan
Mengaplikasikan Pestisida Nabati
Oleh:
Elly Sarnis Pukesmawati, SP. MP dan Nugroho Setyowibowo, S.Si
Disampaikan dalam Pelatihan Pertanian Organik Bagi Penyuluh Pertanian Non PNS Angkatan I – Balai Pelatihan Pertanian, Jambi, 4 s.d 10 Juni 2009.
A. Prinsip Pemanfaatan Pestisida Nabati
![]() |
Daun kenikir, bahan pestisida nabati |
Pada tahap awal pemanfaatan
pestisida nabati dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi dan sifat bahan
tumbuhan yang dicoba, dan hal ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja. Artinya
eksplorasi yang demikian tidak harus berangkat dari keinginan yang berlandaskan
pemikiran ilmiah, tetapi dapat langsung berdasarkan kebutuhan praktis.
Sebetulnya penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida nabati sudah lama
dikenal oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan tradisonal yang
sekarang hilang. Pada saat ini kita perlu melihat kembali kearifan tradisional
dalam bidang perlindungan tanaman. Usaha pengguanan bahan nabati dapat
dimulai dari bahan-bahan tumbuhan yang kita kenal dengan baik, misalnya bahan
tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dengan baik, misalnya bahan-bahan ramuan
tumbuhan obat (tanaman jamu tradisional), bahan tumbuhan yang diketahui
mengandung racun (misalnya gadung, jenu, jarak pagar, dll), bahan tumbuhan
berkemampuan spesifik (misalnya mengandung rasa gatal, pahit, bau spesifik,
tidak disukai hewan/binatang), atau berdasarkan pengalaman diketahui mempunyai
kemampuan khusus terhadap hama dan penyakit tanaman (biji sirkaya, mimba,
tembakau, dll). Selanjutnya tingkat penggunaanya juga dapat diatur sesuai
dengan kebutuhan, demikian juga jenis tanaman yang hendak dilindungi. Usaha
pengendalian dengan bahan-bahan nabati seperti ini aman terhadap lingkungan,
karena bahan-bahan tersebut tidak bersifat asing bagi lingkungan dan cepat
terurai menjadi bahan yang tidak berbahaya.
B. Kelebihan dan Kekurangan Pestisida Nabati
Alam sebenarnya telah menyediakan
bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan serangan hama dan
penyakit tanaman. Namun demikian bahan-bahan alami tersebut ada kelebihan dan
kekurangannya, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Kelebihan Pestisida
Nabati
a. Degradasi/penguraian
yang cepat oleh matahari sehingga mudah terurai menjadi bahan yang tidak
berbahaya.
b.
Memiliki pengaruh yang cepat yaitu menurunkan
nafsu makan serangga hama, walaupun jarang menyebabkan kematian.
c.
Memiliki spektrum yang
luas (racun lambung dan saraf) dan bersifat selektif.
d.
Dapat diandalkan untuk
mengendalikan OPT yang resisten terhadap pestisida kimia.
e.
Phitotoksitas rendah,
yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
f.
Murah dan mudah dibuat
oleh petani
2.
Kekurangan Pestisida
Nabati
a.
Cepat terurai dan daya
kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering.
b.
Daya racunnya rendah
(tidak langsung mematikan serangga)
c.
Produksinya belum bisa
dilakukan dalam sekala besar karena keterbatasan bahan baku
d.
Kurang praktis
e.
Tidak tahan di simpan
C. Fungsi Pestisida Nabati dalam Pengendalian Hama
1.
Repelan, yaitu
menolak/mengusir kehadiran serangga (misal dengan cara mengeluarkan bau yang
menyengat/tidak disukai serangga).
2.
Antifidan, mencegah
serangga hama memakan bagian tanaman yang telah diberi pestisida nabati
(memberikan rasa tidak enak pada tanaman bagi serangga hama).
3.
Merusak perkembangan
telur, larva, dan pupa.
4.
Membuat kemandulan pada
serangga betina.
5.
Racun saraf pada
serangga.
6.
Mengacaukan sistem
hormon pada serangga.
7.
Atraktan, pemikat
kehadiran serangga yang dipakai pada perangkap serangga.
8.
Mengendalikan
pertumbuhan jamur/bakteri..
D. Beberapa Tumbuhan Yang Dapat Digunakan Sebagai Pestisida Nabati
1. Mimba
Tanaman
mimba (Azadirachta indica) mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, salanin,
nimbin dan nimbidin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minya dari
biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah
serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat
membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormon dan
pertumbuhan serangga.
Mimba
mempunyai spektrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh
lunak (200 spesies) antara lain belalang, thrips, ulat kupu-kupu putih, dll.
Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap
preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan
antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat
daun, dan bercak daun. Dan juga mencegah bakteri pada embun tepung (powdery
mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan
serangga, disemprotkan pada daun, disiramkan pada akar agar bisa diserap
tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.
Pestisida
nabati mimba adalah pestisida yang ramah lingkungan, sehingga diperbolehkan
penggunaanya dalam pertanian organik (tercantum dalam SNI Pangan Organik),
serta telah dipergunakan berbagai negara, termasuk Amerika yang dikenal sangat
ketat peraturannya dalam penggunaaan pestisida, yaitu diawasi oleh suatu bahan
yang disebut EPA (Environmental Protection Agency).
2. Akar Tuba
Senyawa
yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak
menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 – 4 % resin rotenone, dibuat menjadi
konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat
(insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan.
Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkena
rotenon. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun
kontak (tidak sistemik) berspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat
digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan
akarasida (tungau).
3. Tembakau
Senyawa
yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya beracun untuk
manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga. Daun tembakau kering mengandung 2 – 8%
nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan
sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs,
dan pengendali jamur (fungisida).
4. Srikaya
Srikaya (Annona squamosa )
merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai peluang untuk digunakan sebagai
insektisida nabati. Biji srikaya mengandung senyawa kimia annonain yang terdiri
atas squamosin dan asimisin yang bersifat racun terhadap serangga. Hasil penelitian
Sujanto et al. (1999) menunjukkan bahwa ekstrak biji srikaya cukup efektif
mengendalikan hama kumbang kedelai Phaedonia inclusa Stal. Penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk: mengetahui pengaruh ekstrak biji srikaya terhadap
mortalitas ulat krop kubis C. pavonana, mengetahui pengaruh ekstrak biji
srikaya terhadap lama hidup dan aktivitas makan C. pavonana, dan mengetahui
konsentrasi ekstrak biji srikaya yang efektif untuk mengendalikan hama tersebut
No. |
Nama Tumbuhan
|
Bagian tumbuhan
|
Kandungan Bahan Aktif
|
Jenis Pestisida
|
1 | Patah tulang | daun | Moluskisida | |
2 | Tefrosia (kacang ikan) | daun | Tephrosin, deguelin | Moluskisida |
3 | Sembung | daun | Borneol, sineol, limonen, eimetil eter floroasetofenon | Moluskisida |
4 | Babadotan | Duan, bunga, batang, akar | Saponin, fivanoid, pilifenol | Insektisida |
5 | Lempuyang gajah | rimpang | Insektisida | |
6 | Lempuyang emprit | rimpang | Insektisida | |
7 | Salam | daun | Perangsang tumbuh | |
8 | Meulaluka (daun wangi) | daun | metyleugenol | Pemikat |
9 | Jeringau | rimpang | Asaron, kolamenol, kolamen, kolameon, metileugenol, dan eugenol | Insektisida |
10 | Kecubung | biji | scopolamin | Insektisida |
11 | Mimba | biji | azadirachtin | Insektisida |
12 | Mindi | Biji, daun | azadirachtin | Insektisida |
13 | Bitung | biji | Saponin, tritepenoid | Insektisida |
14 | Piretrum | Bunga, tangkai bunga | piretrin | Insektisida |
15 | Bengkuang | biji | pachirrizid | Insektisida |
16 | Legundi | daun | Insektisida | |
17 | Serai dapur | daun | Insektisida | |
18 | Bawang putih | umbi | Penolak | |
19 | Nilam | daun | Insektisida | |
20 | Saga | biji | Tanin, toksalbumin | Insektisida |
21 | Tuba | akar | rotenon | Racun ikan, moluskisida, insektisida, penolak |
22 | Kipahit/kisutra | daun | Penolak | |
23 | Secang | Daun, bunga, biji | Insektisida | |
24 | Brotowali | batang | Insektisida | |
25 | Sirsak | Daun, biji | annonain | Insektisida, larvasida |
26 | Srikaya | biji | Annonain, resin | Insektisida |
27 | Jambu mete | Kulit biji | Anarkadat, kardol | Insektisida, fungisida, bakterisida |
28 | Mahoni | Biji | Insektisida | |
29 | Picung | Biji, daun | Asam sianida | Insektisida |
30 | Gadung racun | Umbi | Dioskorin | Rodentisida |
31 | Gadung KB | Umbi | Diosgenin, saponin | Rodentisida |
32 | Suren | Daun | Surenon, surenin, surenolakton | Insektisida |
33 | Kenikir | Daun, bunga | Pepeirton, terhtienil | Nematisida |
34 | Zodia | Daun, bunga | Evodiamin, rutaecarpin | Insektisida |
35 | Kamalakian | Biji | Recinin | Insektisida |
36 | Selasih | Daun, bunga | Metyleugenol | Pemikat |
37 | Cengkeh | Bunga, tangaki bunga, daun | Minyak atsiri | Fungisida |
38 | Tembakau | Daun, batang | Nikotin | Penolak, Insektisida, akarisida |
39 | Jengkol | biji | Asang jengkolat, ureum, belerang | Pengusir tikus |
40 | Jarak | Semua bagian tanaman | Ricin | Insektisida, nematisida, fungisida |
41 | Klerak/lerak | buah | Saponin | Insektisida |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar