Selasa, 01 Januari 2019

Pengendalian Penggerek Batang Padi (Stem Borer)

Penggerek batang padi merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Terdapatnya penggerek di lapang dapat dilihat dari adanya ngengat di pertanaman dan larva di dalam batang (Gambar 5: larva penggerek batang padi bergaris). Mekanisme kerusakan disebabkan larva merusak sistem pembuluh tanaman di dalam batang.




hama penggerek padi
Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker) (Gambar 1)
Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker) (Gambar 2)
Penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker) (Gambar 3)
Lepidoptera: Pyralidae Penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker) (Gambar 4)
Lepidoptera: Noctuidae

 
Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek adalah dari pembibitan sampai pembentukan malai. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya mengakibatkan anakan mati yang disebut sundep pada tanaman stadia vegetatif (Gambar 6); dan beluk (malai hampa) pada tanaman stadia generatif (Gambar 7). Siklus hidupnya 40-70 hari tergantung pada spesiesnya.

Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10% anakan terserang; 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting). Perlu diketahui bahwa kerusakan pada stadia generatif maka tindakan pengendalian sudah terlambat atau tidak efektif lagi.

Aplikasi insektisida dilakukan bila keadaan serangan melebihi ambang ekonomi atau jika populasi ngengat meningkat pada saat tanaman fase generatif. Gunakan insektisida yang berbahan aktif:
- karbofuran,
- bensultap,
- bisultap,
- karbosulfan,
- dimehipo,
- amitraz, atau
- fipronil.


Sumber :

hama penyakit hara pada padi

Jumat, 01 Desember 2017

Pengendalian Penyakit Tungro

Tungro merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Tungro berasal dari bahasa Filipina yang berarti tumbuhan degeneratif  (tumbuhan merana). Di Sumatera Selatan dikenal dengan nama "mentek".  Di Kalimantan Barat dikenal dnegan naman "penyakit habang" dan di Sulawesi selatan dikenal dengan naman "cela pace".

Gejala Penyakit

Padi penyakit tungro
Padi terserang tungro  sumber:saungsumberjambe.com.
Tanaman terinfeksi tungro, tumbuh agak kerdil, ujung daun-daunnya berwarna kuning jingga, dan sedikit membentuk anakan. Tumbuh kerdil disebabkan oleh hambatan pertumbuhan pelepah, helai daun, dan ruas batang tanaman.

Daun menguning dimulai  dari ujung-ujung daun warnanya bervariasi dari kuning muda sampai jingga atau kuning coklat. Pada daun yang menguning (kadang-kadang juga pada daun yang masih hijau), sering dijumpai bintik-bintik berwarna coklat tua. Pada daun muda tanaman yang terserang sering terlihat adanya garis-garis berwarna hijau yang arahnya sejajar dengan urat-urat daun.

Sabtu, 25 November 2017

Perbaikan Cara Tanam Padi dengan System Rice Intensification (SRI)

Jarak tanam (jajar legowo) bagian dari SRI
SRI (Siystem Rice Intensification) dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi metode budidaya padi yang cukup fenomenal. Karena ternyata memberikan hasil yang lebih banyak dibanding dengan sistem konvensional selama ini. Isyu yang lebih penting adalah sistim ini lebih ramah lingkungan dengan mengedepankan sistim pertanian organik. SRI mengajarkan untuk memahami padi sebagai tumbuhan rumput-rumputan yang butuh air akan tetapi bukan tanaman air. Sehingga pengaturan air menjadi hal yang sangat penting. Berikut ini tulisan yang diambil dari salah seorang tokoh penggerak SRI dari Madagaskar Dawn Bakelar bisa menjadikan sebagai rujukan untuk memahami metode SRI.


Apakah SRI itu?

            SRI mengembangkan praktek pengelolaan padi yang memperhatikan kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran, dibandingkan dengan teknik budidaya cara tradisional.  SRI dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Henri de Lauline, seorang pastor Jesuit yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana.  Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh dengan hasil yang positif.

Jumat, 24 November 2017

Pengendalian Kepinding Tanah (Scotenophore vermiculata Voll, Podops vermiculata)

Kepinding tanah atau disebut juga kepinding air (Scotenophore vermiculata Voll, Podops vermiculata) adalah serangga kepik. Warnanya coklat hitam, besarnya 7 - 10 mm.

Kepinding tanah atau kepik
Kepik ini mengeluarkan bau. Hidup di bagian bawah rerumputan dan sewaktu-waktu dapat juga menimbulkan kerusakan besar. Hama ini banyak terdapat di Jawa Barat, Sumatera dan Kalimantan, yaitu pada daerah yang mempunyai kemarau yang pendek.

Di siang hari sangat lamban bergerak dan biasanya berkumpul dalam gerombolan yang besar di tengah-tengah bagian bawah tanaman, kadang-kadang juga sedikit masuk ke dalam lumpur atau sisa-sisa bahan organik. Jika di siang hari cuaca mendung serangga naik ke bagian tanaman yang lebih tinggi dan juga bagian bawah daun. Di malam hari suka terbang dalam gerombolan yang besar berkumpul pada sumber cahaya atau lampu.

Telur kepik diletakkan pada pangkal batang atau daun padi dalam barisan sebanyak 20 - 65 butirPanjang telur kepik 1 mm, mula-mula warnanya hijau abu-abu dan pada waktu akan menetas warnanya menjadi ungu. Telur ini biasanya dijaga oleh induknya.

Masa jadi telur kepik selama 33 - 41 hari dan jumlah telur tiap betina adalah 300 - 600 butir. Masa bertelur sampai 115 hari. Kepik dewasa dapat hidup sampai 200 hari. Serangga atau kepik dewasa dari keturunan terakhir, setelah padi dipanen tinggal di sekitar tempat itu dalam keadaan tidak aktif sampai terdapat lagi tanaman padi berikutnya yang berumur 30 minggu. Disini kepik mulai kawin lagi dan bertelur.

Kamis, 23 November 2017

5 Tehnik Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

Pola tanam Padi-Padi-Palawija untuk mengendalikan OPT
Organisme pengganggu tanaman (OPT) terdiri dari hama, penyakit, dan gulma, merupakan salah satu faktor penghambat usaha produksi padi. Untuk mempertahankan produktivitas padi pada taraf yang tinggi dengan keadaan sumber daya alam yang tidak tercemar dan lestari perlu dilakukan pengendalian OPT. Pengendalian OPT berpedoman pada konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Konsep PHT menunjukkan perlu tidak hanya mengandalkan penggunaan satu teknik saja, tetapi harus menggunakan berbagai tehnik pengendalian yang saling mendukung. 

Untuk mengendalikan OPT perlu memperhatikan berbagai aspek antara lain aspek ekonomi, ekologi dan sosial. Berbagai tehnik pengendalian OPT meliputi pengendalian biologi, pengendalian varietas tahan, pengendalian dengan pengaturan pola tanam, pengendalian secara fisik dan mekanik dan pengendalian secara kimia.

Rabu, 22 November 2017

Membuat Dan Mengaplikasikan Pestisida Nabati


Membuat Dan Mengaplikasikan Pestisida Nabati

Oleh:
Elly Sarnis Pukesmawati, SP. MP dan Nugroho Setyowibowo, S.Si

Disampaikan dalam Pelatihan Pertanian Organik Bagi Penyuluh Pertanian Non PNS Angkatan I – Balai Pelatihan Pertanian, Jambi, 4 s.d 10 Juni 2009.

A.    Prinsip Pemanfaatan Pestisida Nabati

Daun kenikir, bahan pestisida nabati
Tumbuhan merupakan gudang bahan kimia yang kaya akan kandungan berbagai jenis bahan aktif. Dikenal suatu kelompok bahan aktif yang disebut "produk metabolit sekunder" (secondary metabolic products), namun fungsinya bagi tumbuhan tersebut dalam proses metabolisme kurang jelas. Kelompok ini berperan penting dalam berinteraksi atau berkompetisi, termasuk melindungi diri dari gangguan pesaingnya. Produk metabolik sekunder ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif pestisida nabati.
Pada tahap awal pemanfaatan pestisida nabati dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi dan sifat bahan tumbuhan yang dicoba, dan hal ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja. Artinya eksplorasi yang demikian tidak harus berangkat dari keinginan yang berlandaskan pemikiran ilmiah, tetapi dapat langsung berdasarkan kebutuhan praktis. Sebetulnya penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida nabati sudah lama dikenal oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan tradisonal yang sekarang hilang. Pada saat ini kita perlu melihat kembali kearifan tradisional dalam bidang perlindungan tanaman.  Usaha pengguanan bahan nabati dapat dimulai dari bahan-bahan tumbuhan yang kita kenal dengan baik, misalnya bahan tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dengan baik, misalnya bahan-bahan ramuan tumbuhan obat (tanaman jamu tradisional), bahan tumbuhan yang diketahui mengandung racun (misalnya gadung, jenu, jarak pagar, dll), bahan tumbuhan berkemampuan spesifik (misalnya mengandung rasa gatal, pahit, bau spesifik, tidak disukai hewan/binatang), atau berdasarkan pengalaman diketahui mempunyai kemampuan khusus terhadap hama dan penyakit tanaman (biji sirkaya, mimba, tembakau, dll). Selanjutnya tingkat penggunaanya juga dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, demikian juga jenis tanaman yang hendak dilindungi. Usaha pengendalian dengan bahan-bahan nabati seperti ini aman terhadap lingkungan, karena bahan-bahan tersebut tidak bersifat asing bagi lingkungan dan cepat terurai menjadi bahan yang tidak berbahaya.

Tehnik Pengendalian Penyakit Blast

Padi terserang blast
Pengendalian penyakit blast dapat dilakukan beberapa cara yaitu:

  1. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi.
  2. Untuk lahan kering dilakukan penanaman padi gogo yang tahan terhadap penyakit blast. 
  3. Perbaikan cara bercocok tanam dilakukan dengan cara:
    1. Pembenaman jerami sakit sampai membusuk.
    2. Pengaturan jarak tanam yang diatur dengan sistim legowo, tepi arah timur barat.
    3. Pemakaian pupuk secara berimbang dan pupuk nitrogen tidak melebihi 90 kg/ha.
  4. Benih padi diperlukan dengan fungisida dengan dosis 5 gram/kg benih.
  5. Untuk daerah endemis, perlu disemprot terlebih dahulu dengan fungisida dengan dosis 1 liter / hektar, disemprotkan pada saat anakan makasimum, stadium bunting dan awal bunga. Untuk daerah bukan endemis, apabila pengamatan ditemukan bercak daun, peka pencegahan timbulnya busuk leher dilakukan dengan penyemprotan fungisida pada saat awal berbunga.

Mengenal Penyakit Blast


Padi yang terserang penyakit Blast
Penyakit Blast atau busuk pangkal malai atau busuk lehar padi disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae Cav.  Cendawan ini terdapat di semua negara yang menanam padi. Lebih dari 60 negara yang telah melaporkan adanya penyakit ini.

Gejala serangan pada daun terjadi selama periode vegetatif tanaman padi. Pada daun terjadi selama fase bibit, bercak-bercak pada lokasi yang sakit seperti mata pintal, kedua ujungnya lancip, pada pinggirnya sering terlihat warna coklat keabu-abuan. Ukuran dan warnanya tergantung dengan keadaan dan  ketahanan varitas padi.

Pada varietas yang tahan atau selama keadaan tidak menguntungkan cendawan untuk berkembang biak menjadi penyakit, bercak akan menjadi kecil, lebih coklat dan lebih sempit. Kadang-kadang hanya bintik coklat saja yang terlihat. Pada keadaan yang menguntungkan bagi cendawan bercak menjadi besar dan berwarna keabu-abuan.

Kerusakan yang paling parah terjadi apabila leher malai terserang. Bercak sering  terjadi dekat buku paling atas. Leher malai mulai paling mudah mendapat serangan pada saat permulaan keluarnya malai.

Lambat laun sejalan dengan masaknya malai, kepeakaan itu berkurang Terbentuknya bercak-berak  serangan coklat keabu-abuan yang megelilingi leher menyebabkan malai patah (patah leher, busuk leher). Bila serangan terjadi sebelum fase masak susu maka butir-butir padi menjadi hampa. Bila penyerangan terjadi pada stadium lebih lanjut, butir-butir padi mungkin berisi sebagian, setapi seperti berkapur dan mudah patah dan berwarna hijau.

Penyakit ini mungkin juga terapat pada buku batang. Buku-buku yang sering terserang menjadi hitam, kaku dan batang padatah pada bukunya. Gejala pada mayang, cabang-cabang dan butir-butir  kelihatan seperti bercak coklat.

Organisme penyebab penyakit blast.

Penyakit blast disebabkan oleh cencawan Pyricularia oryzae Cav Konidia atau sporanya yang berbentuk bulan lonjong, tembus cahaya, dan bersekat dua (tiga ruangan),  tumbuh pada tangkai konidia yang sederhana dan mudah lepas oleh hembusan angin.

Organisme ini terdiri dari banyak ras, yang memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menginfeksi varietas-variaetas padi.

Konidia (spora) tinggal dan tumbuh pada daun-daun atau leher malai. Di tempat itu biasanya sering terdapat embun. Setelah tumbuh, blas langung meninfeksi jaringan. Untuk menginfeksi dan menimbulkan tanda-tanda penyakit yang dapat dilihat, sepora itu membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari. Siklus hidup cencawan  ini sangat cepat. Kelembaban yang tinggi sangat menguntungkan bagi cendawan, sedangkan kelembaban yang rendah membatasi perlausan bercak serangan.

Beberapa faktor yang mendorong perkembangan penyakit blas adalah:
  1. Iklim basah, curah hujan tinggi, jumlah hari hujan yang cukup banyak, embun, kabut dan sebagainya.
  2. Terlalu banyak pemberian pupuk nitrogen.
  3. Varietas yang peka.

Rabu, 08 November 2017

MEMBUAT SENDIRI INSEKTISIDA BOTANI




Insektisida dari beberapa jenis tanaman


Bahan : daun mimba 8 kg, daun lengkuas 6 kg dan daun serai 6 kg.

Cara pembuatan:
Bahan-bahan tersebut dihaluskan kemudian diaduk dalam 20 liter air dan direndam selam 24 jam. Keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. Larutan ini diencerkan dengan 60 liter air sambil dicampur dengan 20 gram sabun colek atau ditergen. hasil ini dapat digunakan untuk menyemprot lahan seluas 1 hektar.




Insektisida dari daun Babadotan

Daun Babadotan (Agregatum conyzoides) gulma yang mengandung sapronin, flavanoid, polifenol dan minyak atsiri.

Cara pembuatan:
Daun babadotan ditumbuk halus kemundian direndam 10 gram bubuk daun dalam 100ml pelarut metanol.
Jika pelarut sulit diperoleh, dapat dipakai detergen dengan cara merendam 0,5 kg daun babadotan dalam 1 leter air ditambah 1 gram detergen. campuran ini diendapkan selam satu malam. Cairan hasil ekstraksi dicampur dengan air dengan konsentrasi 1%(cairan ekstraksi dicampur dengan 1 liter air), cairan ini sudah cukup beracun bagi serangga.
Tepung daun babadotan jika dicampur dengan tepung terigu mampu menghambat pertumbuhan serangga menjadi kepompong.

Insektisida dari daun Sirsak

Bahan terdiri dari 50 – 100 lembar daun sirsak ditumbuk halus kemudian dilarutkan dalam 5 liter air yang dicampur dengan 15 gram sabun colek, selanjutnya diendapkan selama semalam. Disaring dengan kain halus. hasil penyaringan diencerkan dengan 50 – 75 liter air.
Digunakan untuk mengendalilkan hama thrips yang menyerang cabai.


Insektisida dari minyak Biji Mimba

Biji mimba 50 gram ditumbuk halus dilarutkan dalam 10 cc alkohol dan diaduk. Larutan ini diencerkan dengan 1 liter air lalu diendapkan semalam. Larutan disaring dengan kain halus.
Ramuan ini dapat mengendalikan hama wereng coklat, penggerek batang, dan nematoda yang mengganggu tanaman semusim seperti padi. hama akan mati 2 – 3 hari setelah penyemprotan.

Insektisida dari Bawang Putih

Umbi bawang putih ditumbuk halus, lalu direndam dalam minyak tanah dnegan perbandingan 1 bagian bawang putih dalam 2 bagian minyak tanah. Campuran ini diendapkan selam 24 jam atau lebih, kemudian disaring dengan kain halus. Larutan pekat ini dapat disimpan lama dalam botol tertutupl. Penyemprotan, campurkan 3 sendok teh minyak bawang ke dalam 1 liter air ditambah dengan 2 sendok teh sabun cair. Minyak bawang putih dapt berffungsi sebagai penolak kehadiran serangga (repelen) yang efektif.

Insektisida dari Biji Mahoni

Biji mahoni (switenia marchophylla) ampuh untuk mengusir walang sangit (Leptocorisa oratorius) pada tanaman padi.
Larutan perasan biji mahoni dengan konsentrasi 3% sangat efektif untuk mengendalikan kutu daun (Macrosiphohella sanborni) pada tanaman krisan.
Pembuatan dengan cara mencampurkan 3 gram biji mahoni dalam 100 ml air, kemudian dihaluskan dengan blender. Cairan ini kemudian disaring dan dapat disemprotkan pada tanaman yang terserang tingkat kematian yang dihasilkan bisa mencapai 90% lebih pada hari keempat setelah aplikasi.

Insektisida dari Daun Sirih

Air perasan 300 gram daun sirih dicampur dengan 1 liter air mampu mengenalikan jamur Phythopthora palmivora penyebab busuk pangkal batang.

Selasa, 24 Oktober 2017

Sistim Tanam Jajar Legowo

Sistim tanam jajar legowo terbukti telah meningkatkan produksi, populasi tanaman per luasan yang meningkat, mengurangi hama terutama sekali hama tikus. Bagi anda yang masih belum jelas tentang sistim tanam jajar legowo silahkan simak video penyuluhan berikut ini.


Penjelasan untuk jajar legowo 2-1 ada pada video berikut ini


Selamat menonoton semoga bermanfaat untuk usahatani anda.

Cara Pemupukan Padi Sawah Yang baik

Berikut ini adalah filem penyuluhan tentang cara pemupukan yang baik. Semoga dapat menjadi bahan masukan buat kita para petani sehingga dapat memanfaatkan pupuk secara efisien dan ekonomis.

Selamat menyaksikan


Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Rubuha (Rumah Burung Hantu) salah satu saran PHT
Berikut ini adalah filem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang dapat diterapkan pada Pengelolaan Tanaman Terpadu PTT.

Selamat menyaksikan semoga bermanfaat




Rabu, 18 Oktober 2017

Contoh PROPOSAL KEGIATAN TANAM PERDANA KOMODITI JAGUNG

Teman Gapoktan atau Kelompok tani sering mengadakan upacara Tanam Perdana, terkadang sulit untuk mendapatkan conto proposal kegiatan tersebut. Berikut ini contoh proposal kegiatan tanam Perdana yang diselengarakan oleh Gapoktan.



PROPOSAL
KEGIATAN TANAM PERDANA KOMODITI JAGUNG
GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN) TIRTA KENCANA
KELURAHAN KEMUMU KECAMATAN ARMA JAYA
KABUPATEN BENGKULU UTARA


Minggu, 15 Oktober 2017

KOMPONEN TEKNOLOGI SL-PTT PADI DESA SIDO URIP KECAMATAN ARGA MAKMUR BENGKULU UTARA



OLEH; NURYANI SP[1]. DAN TARJO[2]

I.        PENDAHULUAN
Komponen teknologi yang disusun dalam pelaksanaan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bersifat spesipic lokasi dan mempertimbangkan keragaman sumberdaya, iklim, jenis tanah, social-ekonomi-budaya masyarakat serta menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Pelaksanaan SL-PTT perlu terus disempurnakan dengan lebih memberdayakan Laboratorium Lapangan (LL) sebagai lokasi inovasi teknologi baru. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan adopsi teknologi spesipic lokasi.

Pendekatan SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar bagi petani untuk mengembangkan diri dalam pengambilan keputusan, sebagai tempat bertukar informasi dan pengalamn, memberikan pemahaman tentang berusaha tani dengan pengelolaan yang baik, tanpa meninggalkan pengolahan yang efisien, pembinaan manajemen kelompok sehingga kelompok tani menjadi lembaga yang benar-benar dirasakan manfaatnya bagi kolompok tani dan anggota.

Selasa, 14 Juni 2016

Panen Raya SLPTT Tahun 2012

Panen Raya SLPTT Tahun 2012 di Desa Sido Urip Kecamatan Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara. Panen Raya dihadiri oleh Rombongan Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah, Bupati Bengkulu Utara Dr, H. Imron Rosyadi, dan Wakil Bupati Bengkulu Utara Ir. Mian. Selengkapnya kegiatan dapat dilihat pada dokumentasi berikut ini.




Selasa, 15 Maret 2016

PANEN DAN PENGAMBILAN UBINAN


Oleh: Nuryani, SP.





Penentuan Saat Panen



Waktu panen bergantung beberapa faktor, antara lain varietas, iklim dan pemeliharaan tanaman. Di Indonesia pada umumnya tanaman padi berbunga tidak serempak. Sedangkan panen menunggu masaknya malai yang masih hijau. Hal itu menyebabkan malai yang lebih dahulu menjadi terlalu masak, sehingga mudah rontok dan berasnya retak-retak. Pada waktu panen berlangsung dan selama pengangkutan dari sawah, banyak gabah yang hilang. Oleh karena itu perlu diatur agar saat berbunga dapat serentak sehingga waktu panen dapat serentak.



Cara-cara untuk membuat keluar malai serentak:

  1. Perlu diperhatikan meratanya benih yang disemaikan.
  2. Penaburan pestisida dan pupuk harus rata untuk memperoleh tanaman yang seragam.
  3. Pengolahan tanah harus sama dalamnya.
  4. Permukaan sawah harus rata.
  5. Mengurangi tumbuhnya anakan padi yang tidak produktif dengan cara pengeringan sawah selama 5 – 10 hari setelah fase terbentuknya anakan produktif berakhir.
  6. Kurang adari 10 hari sebelum panen, sawah dikeringkan agar masaknya padi lebih merata dan padi yang dipanen tidak basah.



Penentuan saat panen dapat dilakukan dengan pengamatan visual dan pengamatan teoritis. Pengamatan visual dilakukan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah. Berdasarkan kenampakan visual, umur panen padi dicapai apabila 90 – 95% butir gabah pada malai padi sudah kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan mengasilkan gabah berkualitas baik sehingga menghasilkan rendemen giling yang tinggi.



Pengamatan teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air. Berdasarkan deskripsi varietas padi, umur padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata atau antara 135 sampai 145 hari setelah tanam. Berdasarkan kadar air, umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22 – 23% pada musim kemarau dan antara 24 – 26% pada musim penghujan.



Panen



Sabit merupakan alat panen manual untuk memotong padi secara cepat. Sabit terdiri dari 2 jenis, yaitu sabit biasa dan sabit bergerigi. Sabit bergerigi pada umumnya digunakan untuk memotong apdi varietas unggul baru yang berpostur pendek. Penggunaan sabit bergerigi dapat menekan kehilangan hasil sampai 3%.



Spesifikasi sabit bergerigi yaitu:

  1. Gagang terbuat dari kayu bulat berdiameter 2 cm dan panjang 15 cm.
  2. Mata pisau terbuat dari baja keras yang satu sisinya bergerigi antara 12 - 16 gerigi sepanjang 1 inci.
  3. Pemotongan padi dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah dan potong bawah tergantung cara perontokannya. Pemotongan dengan cara potong bawah dilakukan bila perontokan dengan menggunakan pedal thresher atau digebuk. Pemotongan atas atau tengah apabila menggunaan power thresher.



Sistim panen harus dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:



  1. Pemanenan dilakukan dengan sistim beregu atau berkelompok.
  2. Pemanenan dan perontokan dilakukan oleh kelompok pemanen.
  3. Jumlah pemanen 5 – 7 orang yang dilengkapi dengan 1 unit pedal theresher atau 15 – 20 orang yang dilengkapi 1 unit power thresher.



Setelah disabit, sebelum dilakukan perontokan padi ditumpuk. Ketidaktepatan dalam penumpukan dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penupukan padi menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil atnara 0,94 – 2,36%.



Penggunaan power thresher dalam perontokan dapat menekan kehilangan hasil sekitar 3%. Berikut ini cara perontokan padi dengan power thresher:

  1. Pemotongan tangkai pendek disarankan untuk merontok dengan mesin perotok tipe “throw in” dimana semua bagian yang akan dirotok masuk ke dalam ruang perontok.
  2. Pemotongan tangkai panjang disarankan untuk merontok dnegan alat atau mesin yang mempunyai tipe “hold on” dimana tangkai jerami dipegang, hanya bagian ujung padi yang ada malainya yang ditekankan kepada alat perontok.
  3. Setelah mesin dihidupkan atur putaran silinder perontok sesuai dengan yang diinginkan.
  4. Putaran silinder perontok akan menghisap jerami padi yang dimasukkan dari pintu pemasukkan.
  5. Jerami akan berputar-putar di dalam ruang perontok, tergesek terpukul dan terbaga oleh gigi perontok dan sirip pembawa menuju pintu pengeluaran jerami.
  6. Butiran padi yang rontok dari jerami akan jatuh melalui saringan perontok, sedangkan jerami akan terdorong oleh plat pendorong ke pintu pengeluaran jerami.
  7. Butiran padi, potongan jerami dan kotoran yang lolos dari saringan perontok akan jatuh ke ayakan dnegan bergoyang dan juga terhembus oleh kipas angin.
  8. Butiran hampa atau benda-benda ringan lainnya akan tertiup terbuang melaui pintu pengeluaran kotoran ringan.
  9. Benda yang lebih besar dari butiran padi akan terpisah melaluai ayakan yang berlubang, sedangkan buti padi akan jatuh dan tertampung pada pintu pengeluaran padi bernas.








Pengambilan Ubinan



Pengubinan merupakan istilah yang biasa digunakan oleh petugas pertanian maupun statistik untuk menghitung secara cepat dan sederhana hasil panen produk pertanian tidak hanya padi sawah. Namun teknik ini paling umum digunakan untuk memperkirakan potensi hasil gabah dalam luasan 1 hamparan ( 1 ha ).



Untuk melakukan pengubinan ini ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh siapa saja yang ingin menghitung potensi hasil tanamannya. Prosesnya sangat sederhana, petani pun bisa melakukannya. Proses yang pertama kali harus dilakukan adalah hari yang tepat untuk pengubinan dan diupayakan tanaman padi yang akan diubin sudah benar-benar siap untuk dipanen (fisiologis dan umurnya sudah tepat).



Langkah pengubinan



Pengubinan dilakukan dengan cara cara sebagai berikut :

  1. Mengambil minimal 3 titik berbentuk ubin berukuran 2,5m x 2,5m per hektar sawah.
  2. Memotong padi hasil ubinan
  3. Memisahkan bulir padi dari batangnya.
  4. Menampi untuk memisahkan gabah hampa.
  5. Menimbang padi hasil ubinan (termasuk gabah hampa.)



Setelah itu timbang padi hasil pemisahan tadi. Hasil timbangan tersebut di kalikan 16 lalu di kalikan 80%



Manfaat Pengubinan



Fungsi kegiatan pengubinan adalah para petani bisa mengetahui perkiraan potensi hasil dari tanaman padi petani, hal ini bermanfaat agar petani tidak diperdaya oleh sistem jual ijon (borong) yang hanya memperkirakan harga perluasan lahan yang ada. Contohnya seorang petani memiliki lahan sawah yang telah ditanami padi dan siap penen, lahan tersebut sudah ditawar oleh para pengijon seharga 17,5 juta rupiah untuk hasil gabah yang dipanen 1 ha milik petani tersebut, ternyata setelah menghitung sendiri bahwa potensi panen yang diperkirakan dari hasil ubinan dilokasi petani tersebut diperoleh data 4750 grm untuk luasan 2,5 m x 2,5 m dengan sistem tanam jajar legowo 4:1, maka prediksi hasil panen yang diperoleh adalah (4,75 kg x 16 = 76 kwintal gabah panen dan jika dijual maka hasilnya adalah = (76 kwintal x Rp. 350.000 = Rp. 26.600.000), ternyata hasil panen bisa mencapai 2 x lipat dari prediksi pedagang ijon.



Kegiatan pengubinan bisa membuka pengetahuan petani tentang prediksi produksi gabah panennya. Walaupun terkadang secara tidak sadar kegiatan ini hanya sekedar menghitung hitung namun secara sosial hal ini bisa berdampak perubahan yang sangat baik bagi kesadaran petani yang selama ini masih terjerat pola pikir ijon.



Kegiatan ini juga bisa menjadi sarana bagi penyuluh pertanian dalam membuka wawasan pola pikir petani tentang teknologi pertanian, karena metode pengubinan juga menerapkan metode dan teknik teknik yang membutuhkan pembelajaran terlebih dahulu.



Pengubinan juga menjadi tolok ukur keberhasilan dalam melakukan usaha tani. Peningkatan hasil ubinan menunjukan adanya dampak penerapan teknologi yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilakuan evaluasi bersama untuk perbaikan usaha tani yang akan datang.





Oleh karena itu dalam setiap kegiatan pengubinan penyuluh tidak hanya melakukannya bersama petugas dari BPS namun juga melibatkan petani sebagai pelaku utama dalam kegiatan pengubinan.





Disadur dari:

  • Panduan Teknologi Mendukung Program SLPTT Padi, BPTP Provinsi Bengkulu, 2010.
  • Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu, Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, Balai Penelitian Tanaman Padi, International Rice Research Institute, 2004.
  • Bercocok Tanam Padi, Yasaguna Jakarta,1992.